Langsung ke konten utama

Fenomena Crown Shyness




Crown Shyness atau pelepasan kanopi merupakan fenomena alam yang misterius. Hal ini terjadi di mana mahkota beberapa jenis pohon tidak saling bersentuhan, tapi dipisahkan oleh celah yang terlihat sangat jelas dari permukaan tanah.

Efeknya biasanya terjadi di antara pohon-pohon dari spesies yang sama, tapi telah diamati terjadi pula dengan pohon-pohon dari spesies yang berbeda. Fenomena pelepasan mahkota ini pertama kali didokumentasikan selama tahun 1920an, tapi para peneliti belum dapat mengetahui penyebab dari fenomena tersebut.

Ada banyak teori yang beredar di kalangan ilmiah, yang sebagian besar masuk akal. Namun tidak ada yang bisa membuktikan mengapa beberapa pohon bisa tidak saling bersentuhan.

Ahli hutan asal Australia, M.R. Jacobs menulis bahwa tiap pohon tumbuh sensitif terhadap abrasi, yang berakibat dengan kesenjangan kanopi atau Crown Shyness. Namun beberapa ilmuwan mengatakan bahwa Crown Shyness merupakan pertahanan alami pohon dari penyabaran serangga pemakan daun.

Seorang ilmuwan Malaysia mengatakan bahwa pohon yang tumbuh peka terhadap tingkat cahaya dan berhenti tumbuh jika mereka terlalu dekat dengan pohon lainnya. Hal ini karena tanaman dapat mendeteksi frekuensi cahaya tertentu. Namun teori-teori tersebut masih diselimuti dengan keraguan dalam penjelasannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

'Hena Masa Waja' Bukan Lagu Pemberontak

Untuk kekasihku Indonesia, Perkenalkan Kami adalah Maluku...Kami adalah Maluku.  Sperma seni yang dilarang menyanyikan 'Hena Masa Waja', sebelum RUU musik kalian ributkan di Gedung Rakyat dengan dalih Pembungkaman Suara. Mulut kami sudah dibungkam negara, saat Tifa su babunyi dengan pesan-pesan tetua dalam satu lirik lagu, yang dianggap bisa membubarkan sebuah Negara. Hena Masa Waja Letehoeniemoea o ... Joeri tasibea Salane kotika o ...  Hena Masa Waja Letehoeniemoea o ...  Joeri tasibea  Salane kotika o ... A ole roema e ...  Roema singgi sepa e ...  E..paoene..ite..kibi ratoe  Hira roli o.. Hena masa waja Letehoenimoea o..  Hena masa waja Letehoenimoea o..  Hena masa waja Letehoenimoea o..  Arti dari lagu ini adalah  Negeri Pertama, Negeri yang paling tinggi... Semua orang berada ditempat yang paling tinggi... disaat semua air ada menggenangi sekitar kita dikala itu... Lagu 'Hena Masa...

Anatomi atau Ricikan Keris Jawa

Dalam keris jawa terdapat rincian nama yang digunakan untuk menyebut bagian-bagian keris, nama-nama tersebut sering kali disebut sebagai Ricikan Keris. Nama-nama ricikan tersebut bisa diibaratkan seperti yang terdapat pada anatomi tubuh manusia, ada tangan, kaki, dada, pundak, kepala dan lain sebagainya. Ada banyak sekali jenis dan bentuk keris, masing-masing bentuk dan jenis biasanya akan memiliki nama yang berbeda. Semakin sederhana bentuk sebilah keris, maka akan sedikit pula ricikannya.  Secara sederhana sebilah keris memiliki tiga bagian, yakni: - Wilahan (bilah) - Bagian Ganja dan  - Pesi.  Bagian wilahan dapat dibagi tiga, yakni:  - Pucukan (bagian paling ujung yang runcing) - Awak-awak (bagian tubuh keris) dan  - Sor-soran (bagian bawah keris). Nama-nama ricikan keris paling banyak ditemukan pada bagian sor-soran keris. Hal ini karena motif dan ornamen keris lebih banyak terdapat dibagian bawah/pangkal keris. Adapun ...

Pancasila Kini Kembali Teruji

Kejadian teror yang pernah berlangsung beberapa waktu yang lalu, membuat Bangsa ini kembali berduka, karena banyaknya korban yang berjatuhan, tidak hanya dari pihak keamanan atau para pelaku teror itu sendiri, dan tentunya itu menambah preseden buruk tentang integritas kita sebagai Bangsa Ramah tanah serta Berperilaku Beradab. Mengapa hal itu bisa terjadi ?? Dari semua kejadian tersebut, kita seperti diingatkan, bahwa Bangsa ini, terus menerus bergelut, dengan polemik yang itu-itu saja selama ini. Entah karena egosentris kelompok tertentu, atau justru kelompok tertentu merasa diperlakukan sewenang-wenang. Dan yang membuat tidak habis pikir adalah, setiap kejadian memilukan ini terjadi, biasanya saat-saat menjelang pesta demokrasi akan berlangsung. Semua kelompok terus-menerus membenturkan opininya, demi kebanggaan si tuan fulan, yang justru mereka tidak mengenalnya sama sekali. Bola liar opini terus bergulir, sampai dia menemukan celah, untuk merangsek masuk sebagai ...