Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Agama Lokal

Konsep Kehidupan Dan Kematian Menurut Agama Marapu

Agama Marapu adalah sebuah agama lokal yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba. Agama ini merupakan kepercayaan yang memuja nenek moyang dan leluhur. Marapu adalah arwah dari para leluhur yang bertindak sebagai ‘Dikita – No’neka, yaitu perantara antara manusia dengan yangIlahi(Magholo – Marawi). Peranan Magholo–Marawi adalah menciptakan, memelihara, melimpahkan rezeki, keturunan, kesehatan dan menetapkan umur manusia dan semua makluk ciptaan yang lain. Di’kita – No’neka diyakini sebagai para leluhur yang sudah mengalami perjumpaan dengan Magholo – Marawi. Diyakini bahwa para leluhur tersebut ketika selagi masih hidup di bumi, suci hatinya, sakti dan tidak pernah berbuat jahat. Maka apa yang diucapkannya akan menjadi kenyataan. Kalau mengatakan kepada seekor binatang hanya dengan menunjukkan jari tangannya ke arah binatang itu matilah, maka binatang itu benar-benar mati. Agama Marapu adalah agama asli atau "sumbu hidup" nenek moyang penduduk Sumba, bai...

Zombie Ada Di Indonesia !!!

Foto: Istimewa Tradisi pemakaman Ma’nene yang dilakukan masyarakat Tana Toraja sempat menggegerkan dunia karena dianggap sebagai fenomena mayat hidup atau zombie. Dengan adanya sorotan dunia tersebut tradisi ini menjadi terkenal di dunia.  Namun ternyata masyarakat Tana Toraja memiliki lebih dari satu tradisi pemakaman! Apa saja itu? Ma’nene merupakan satu dari tiga tradisi pemakaman yang dijalankan masyarakat Tana Toraja. Dalam ritual ini jasad orang yang sudah meninggal akan dikenakan pakaian. Ritual ini dilakukan tiga tahun sekali untuk menghormati leluhur mereka. Dihumpun dari berbagai sumber, berikut ini tradisi pemakaman di Tana Toraja. 1. Tradisi Kubur Bayi di Dalam Pohon Masyarakat Tana Toraja memiliki tradisi pemakaman jasad bayi yang terbilang unik. Jika ada bayi keturunan Tana Toraja meninggal sebelum giginya tumbuh maka akan dimakamkan di dalam sebuah lubang pada pohon Tarra. Selanjutnya dengan menggunakan anyaman ijuk lubang tersebut ditutup ...

Sunda Ajaran Leluhur Nusantara

Foto: Istimewa Tri tangtu adalah cara berpikir masyarakat tradisional Sunda. Tri tangtu berasal dari bahasa Sunda, di mana kata tri atau tilu yang artinya tiga dan tangtu yang artinya pasti atau tentu. Masyarakat tradisional Sunda memaknai tri tangtu sebagai falsafah hidup yang berpedoman pada tiga hal yang pasti yakni; Batara Tunggal yang terdiri dari Batara Keresa, Batara Kawasa dan Batara Bima Karana. Cara berpikir dalam pola pembagian tiga adalah umum untuk masyarakat Indonesia,karena orang Indonesia hidup dalam pertanian ladang. Dalam pandangan hidup orang Sunda, ditegaskan bahwa orang Sunda tidak mengandalkan keyakinan hidupnya itu pada kekuatan diri sendiri saja, melainkan pada kuasa yang lebih besar, pengguasa tertinggi, sumber dan tujuan dari segalanya, yang disebut dengan berbagai nama, antara lain Gusti Nu Murbeg Alam. Dalam masyarakat Sunda,tri tangtu diterapkan dalam sejumlah hal, antara lain: 1. Senjata kujang, yang mempunyai tiga fungsi sekalig...